Connect with us

Ilmu

Perbedaan Meteor dan Meteorit Menurut Berbagai Aspek

Published

on

Perbedaan meteor dan meteorit bisa dilihat dari berbagai sisi. Memang, istilah ini sangat mirip dalam hal bahasa. Namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas, terutama dari karakteristiknya.

Kebanyakan orang menyebut bintang jatuh untuk fenomena meteor yang melayang di angkasa. Padahal benda tersebut adalah batu yang memiliki berbagai ciri khas tersendiri. Tidak semua batu memiliki jenis dan karakteristik yang sama.

Memahami Perbedaan antara Meteor dan Meteorit

Mungkin masih banyak orang yang belum memahami arti meteor. Pada dasarnya meteor adalah partikel yang mampu menghancurkan asteroid. Benda-benda langit ini mengorbit matahari.

Baca Juga: Fase Bulan Purnama, Berhubungan dengan Perubahan Bentuknya

Dalam hal ini, ia selalu terbakar ketika memasuki atmosfer bumi. Ini menciptakan efek bintang jatuh. Jadi orang melihat meteor jatuh, bukan bintang.

Orang tidak melihat bintang yang bergerak seolah-olah telah bergeser dari tempatnya. Nah, meteor yang tidak sampai ke bumi tanpa melalui disintegrasi disebut meteorit.

Kebanyakan meteor adalah potongan-potongan debu komet dan es. Ukurannya sangat kecil, bahkan tidak lebih besar dari sebutir beras. Meski begitu, tetap terlihat dari permukaan bumi meski hanya berupa titik.

Meteorit adalah bentuk meteor yang tidak habis terbakar dan mencapai permukaan bumi. Adanya benturan hebat dari meteorit ke bumi dapat menimbulkan lubang yang besar. Jadi berbahaya jika jatuh di mana saja.

Untuk mengetahui lebih detail apa saja perbedaannya, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Ukuran yang berbeda

Perbedaan antara meteor dan meteorit berikutnya terletak pada ukurannya. Dalam hal ini, pengetahuan tentang ukuran meteor dan meteorit sangat dibutuhkan.

Baca Juga: Asteroid 4660 Nereus Diperkirakan Mendekati Bumi 11 Desember 2021

Tentu saja ukuran meteor jauh lebih besar dari meteorit. Meteoroid memiliki ukuran 1.265 meter.

READ  2021 tidak akan terasa, bumi dipanggil untuk berputar lebih cepat dalam 50 tahun terakhir, sehari tidak akan pernah 24 jam!

Kawah pertama yang cukup besar akibat jatuhnya meteorit adalah Arizona sekitar 49.000 tahun yang lalu. Saat itu meteor yang jatuh memiliki ukuran sekitar 45,72 meter. Meski kecil, namun mampu membentuk kawah hingga 2 km.

Dalam hal ini, kawah mampu mencapai kedalaman 175 meter. Bahkan benturan itu juga menyebabkan tepi kawah terangkat 45 cm.

Posisi atau Lokasi

Lalu ada perbedaan antara meteor dan meteorit berdasarkan lokasinya. Meteor berada di lapisan atmosfer yang belum jatuh ke permukaan bumi.

Berbeda dengan meteorit yang berada di permukaan bumi. Meteorit adalah hasil jatuhnya meteor yang tidak terbakar dengan membentuk batuan. Nah, kandungan di dalam batu tersebut berupa nikel dan besi.

Sifat Setiap Objek

Meteor adalah benda langit yang diperkirakan akan muncul. Banyak yang memberikan doa dan harapan saat melihat bola. Meteor terbentuk dari meteoroid yang jatuh.

Perbedaan antara meteor dan meteorit sangat jelas. Meteoroid tidak jauh dari Bumi dan sering tertarik oleh gaya gravitasi. Saat meteoroid jatuh, akan terjadi gesekan dengan atmosfer.

Tak lama kemudian, benda angkasa ini akan terbakar habis sebelum akhirnya mencapai bumi. Proses terjadinya meteor jatuh sering terlihat dari bumi yang sangat menarik.

Sedangkan meteorit adalah partikel yang tidak termakan oleh atmosfer. Jatuhnya benda ini membawa energi yang cukup besar. Pasti juga menimbulkan dentuman saat pertama kali menyentuh permukaan bumi.

Perbedaan antara meteor dan meteorit juga terlihat dari segi penciptaannya. Meteor adalah meteoroid atau partikel yang menghancurkan asteroid dan komet. Keduanya selalu mengorbit matahari.

Tentu saja sebagian besar adalah potongan-potongan debu dan es yang sangat menarik. Meteorit adalah batuan yang memecah asteroid di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.

Baca Juga: Urutan Planet Tata Surya dari yang Terdekat dengan Matahari

Waktu pembentukan meteor hanya 3 sampai 6 tahun. Ini juga berlaku untuk pembentukan meteorit yang bergantung pada meteor. Dari sini Anda sudah paham, bukan dari segi penciptaan?

READ  Jatuh Sejak 5 Februari, Satelit Telkom-3 Masih Tidak Diketahui Titik Tepatnya

Sebenarnya tidak ada banyak perbedaan antara keduanya. Namun, nyatanya kedua objek tersebut masih saling berkaitan. Pastikan Anda memahaminya dengan baik dan cermat.

Sekarang Anda tahu perbedaan antara meteor dan meteorit. Dengan demikian, Anda tidak perlu lagi bingung ketika harus menyebutkan perbedaannya. Semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan Anda tentang astronomi. (R10 / HR-Online / Editor-Ndu)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ilmu

Panjat Tebing di Curug Leuwileutak, Wisata Petualangan di Pangandaran

Published

on

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Pancuran pancuran di Curug Leuwileutak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menikmati sensasi mendaki dan menjelajah air terjun.

Curug Leuwileutak yang terletak di Desa Harumandala, Kecamatan Cigugur, merupakan salah satu air terjun yang menyuguhkan suasana asri dan alami.

Berwisata ke Curug Leuwileutak, wisatawan bisa mencoba sensasi rappeling atau panjat tebing (mendaki air terjun di dinding batu).

Salah satu penggiat pariwisata di Kecamatan Cigugur, Andang mengatakan, air terjun atau Curug Leuwileutak memiliki pesona tersendiri dengan bebatuan yang tertata di sekitar air terjun. Begitu juga dengan air terjunnya.

Baca Juga : Banyak Wisatawan Abai Prokes, Jeje Ancam Tutup Wisata Pangandaran

Bukan itu saja, bagi pengunjung yang punya nyali, panjat tebing di Curug Leuwileutak menjadi sensasi tersendiri. Karena pengunjung bisa mendaki air terjun dengan ketinggian sekitar 25 hingga 30 meter,” jelasnya, Kamis (12/2/2021).

Air terjun Leuwileutak juga sangat cocok dijadikan spot favorit. Karena pemandangan air terjun di dinding batu membuat pengunjung selalu mengabadikannya dengan berfoto selfie.

“Jadi wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran tidak hanya menikmati wisata pantai, tetapi juga air terjun sebagai alternatif lain. Jika ingin mencoba alternatif lain, maka Curug Leuwileutak patut dicoba,” kata Andang.

Jatuh dengan pancuran pancuran, pengunjung akan merasakan sensasi adrenalin melihat tebing dengan air terjun yang mengalir. (Cenk/R3/HR-Online/Editor-Eva)

READ  Asap menciptakan gambar hari kiamat
Continue Reading

Ilmu

Komet Leonard Lewat Dekat Bumi, Begini Kapan dan Cara Mengamatinya

Published

on

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Fenomena di tata surya diperkirakan akan terjadi pada bulan Desember.

Komet C/2021, juga dikenal sebagai Leonard, akan melintas di dekat Bumi.

Ini akan menjadi momen terbaik bagi pengamat tata surya untuk bisa mengamati atau menyaksikannya.

Komet C/2021 A1 (Leonard) adalah komet periode panjang yang ditemukan oleh GJ Leonard di Observatorium Gunung Lemmon pada 3 Januari 2021 yang lalu.

Periode orbit komet adalah 80.000 tahun dengan kemiringan orbit 132,68 derajat atau bergerak mundur.

Baca juga: Fenomena Astronomi Nadir Ka’bah Bukti Bumi Bulat, Ini Hukum Islam Menghadap Kiblat

Peneliti di Pusat Ilmu Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang Dikatakan, komet ini akan melintas di dekat Bumi pada 12 Desember 2021 nanti.

Komet Leonard akan melintas pada jarak terdekatnya dari Bumi sejauh 0,233 unit astronomi (sa) atau 34.857.000 km.

“Saat melintas di dekat Bumi, komet Leonard magnitudonya mencapai +2,1 (data terupdate 1 Desember 2021) yang menunjukkan bahwa komet ini bisa dilihat tanpa menggunakan alat bantu optik,” jelas Andi kepada Kompas.com, Rabu (12/1/2021). ) .

Secara umum, katanya, Komet Leonard Hal ini dapat dilihat pada pagi atau subuh mulai 1-11 Desember 2021.

Pada 12 Desember, ketinggian komet terlalu rendah saat matahari terbit sehingga sulit untuk diamati.

Baca juga: 5 Fenomena Astronomi yang Akan Terjadi 23-29 November 2021

READ  2021 tidak akan terasa, bumi dipanggil untuk berputar lebih cepat dalam 50 tahun terakhir, sehari tidak akan pernah 24 jam!
Continue Reading

Ilmu

Astronom Menemukan Sepasang Lubang Hitam Supermasif Terdekat dengan Bumi

Published

on

KOMPAS.com – Para astronom telah mendeteksi keberadaan pasangan lubang hitam supermasif.

Bukan sepasang lubang hitam biasa, karena menjadi lubang hitam supermasif paling dekat dengan bumi pernah diamati.

Salah satu lubang hitam supermasif berukuran 154 juta kali massa Matahari. Sedangkan yang lainnya lebih kecil, hanya 6,3 juta massa matahari.

Kedua objek juga lebih dekat satu sama lain daripada pasangan lubang hitam supermasif lainnya yang terlihat sebelumnya.

Baca juga: Alam Semesta Berekspansi, Ini Dampaknya pada Lubang Hitam

Para astronom juga berpendapat, bahwa lubang hitam yang terletak di galaksi NGC 7727 pada akhirnya akan tumbuh begitu berdekatan sehingga akhirnya bergabung menjadi satu lubang hitam yang jauh lebih besar.

Temuan ini juga memberi kita laboratorium yang sangat dekat untuk menyelidiki interaksi antara lubang hitam supermasif sebelum mereka bergabung.

Dapatkan informasi, inspirasi dan wawasan dari surel Anda.
Daftar surel

“Ini adalah pertama kalinya kami menemukan dua lubang hitam supermasif yang sangat dekat satu sama lain, kurang dari setengah jarak dari pemegang rekor sebelumnya,” kata Karina Voggel, astronom di Strasbourg Observatory di Prancis.

Jarak tersebut memecahkan rekor pasangan lubang hitam sebelumnya, yang diketahui berjarak 470 juta tahun cahaya. Sementara itu, sepasang lubang hitam baru ini hanya berjarak 1600 tahun cahaya.

Mengutip Science Alert, Rabu (1/12/2021) ada beberapa alasan mengapa dua lubang hitam supermasif ini menarik bagi para astronom.

Lubang hitam Supermasif ditemukan di pusat sebagian besar galaksi, inti di mana segala sesuatu berputar.

Selain itu, ketika dua lubang hitam ditemukan bersama, ini menunjukkan bahwa kedua galaksi terbentuk bersama dan dapat memberi tahu kita seperti apa bentuknya pada tahap akhir.

READ  Gejolak Inti Bumi Miring di Laut Indonesia, Apa Efeknya?

Baca juga: Lubang Hitam Supermasif Ini Keluarkan Gas Galaksi, Apa Dampaknya?

Lubang hitam supermasif juga dapat memberi tahu kami sesuatu bagaimana mereka menjadi begitu besar. Salah satu cara yang mungkin adalah dengan menggabungkan dua lubang hitam dan temuan baru ini memungkinkan pemodelan yang lebih akurat.

Lebih jauh lagi, meskipun dua lubang hitam supermasif ini diperkirakan akan bergabung, bukan berarti itu akan terjadi dalam waktu dekat. Ini akan memakan waktu setidaknya 250 juta tahun atau lebih.

Tapi, sementara kita tidak bisa mengamatinya, akan ada lebih banyak penggabungan lubang hitam supermasif lain yang terjadi di sekitar kita.

“Instrumen baru seperti detektor gelombang gravitasi berbasis ruang angkasa LISA diharapkan dapat mendeteksi gelombang gravitasi frekuensi rendah yang dipancarkan oleh lubang hitam,” kata para peneliti.

Penelitian yang dipublikasikan di Astronomi & Astrofisika.

Dapatkan pembaruan berita pilihan dan berita terkini setiap hari dari Kompas.com. Gabung grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, lalu bergabung. Anda harus terlebih dahulu menginstal aplikasi Telegram di ponsel Anda.

Continue Reading

Trending