Connect with us

Ilmu

5 Fakta Sabuk Kuiper di luar Neptunus

Published

on

Selain planet-planet yang berputar mengelilingi Matahari, ada benda-benda lain yang terperangkap oleh gaya gravitasi Matahari. Di ujung tata surya, ada daerah yang berisi lingkaran es. Wilayah ini dikenal sebagai Sabuk Kuiper.

Penasaran dengan Sabuk Kuiper? lihat informasi di bawah ini.

1. Ukurannya sangat besar

Ilustrasi Matahari dilihat dari salah satu objek sabuk Kuiper (dok. NASA)

Sabuk Kuiper terletak di luar orbit Neptunus. Dengan bentuk seperti donat, ujung sabuk Kuiper berjarak sekitar 30 AU atau satuan astronomi dari Matahari. Yang dimaksud dengan satuan astronomi adalah jarak dari Matahari ke Bumi (sekitar 150 juta kilometer).

Wilayah inti sabuk Kuiper berjarak sekitar 50 AU dari Matahari. Setelah itu, ada bagian luar sabuk Kuiper yang terbentang hingga 1000 AU. Bahkan, beberapa bagian sabuk ini malah tersebar lebih jauh.

2. Tidak ditemukan oleh Kuiper

5 Fakta Sabuk Kuiper di luar Neptunus Astronom Gerard Kuiper yang namanya digunakan untuk menamai wilayah yang penuh dengan es (dok. NASA)

Nama Sabuk Kuiper diambil dari nama seorang astronom dari Belanda, Gerard Kuiper. Dia menulis sebuah makalah ilmiah pada tahun 1951 yang menulis tentang benda-benda langit yang berada setelah orbit Pluto. Kuiper sendiri sebenarnya tidak memprediksi keberadaan benda di sabuk tersebut.

Para astronom sendiri tidak sadar ketika mereka menemukan sabuk Kuiper. KBO pertama yang ditemukan adalah Pluto pada tahun 1930. Astronom ini tidak menyangka akan ada begitu banyak benda es di luar Neptunus.

3. Mirip dengan sabuk asteroid

5 Fakta Sabuk Kuiper di luar Neptunus Vesta, salah satu asteroid di sabuk asteroid (dok. NASA)

Bagi Anda yang belum tahu, sabuk asteroid merupakan kawasan yang berisi planet-planet kerdil yang juga disebut sebagai asteroid di tata surya. Letak sabuk asteroid ini berada di antara orbit Mars dan Jupiter.

Sabuk Kuiper diperkirakan merupakan sisa dari pembentukan tata surya. Perbedaan antara Sabuk Kuiper dan Sabuk Asteroid adalah Sabuk Kuiper berbentuk seperti donat, yang lebih tebal dari piringan. Menurut para peneliti, benda-benda es ini akan membentuk sebuah planet besar jika tidak terganggu oleh medan gravitasi Neptunus.

Baca juga: 5 Fakta Awan Oort, Rumah Komet yang Mengelilingi Tata Surya

4. Masih banyak yang harus dipelajari tentang sabuk Kuiper

5 Fakta Sabuk Kuiper di luar Neptunus Ilustrasi satu objek sabuk Kuiper, Eris (NASA doc.)

Sejauh ini hanya ada sekitar dua ribu objek Sabuk Kuiper (Objek Sabuk Kuiper, KBO) direkam. Namun, jumlah ini masih tergolong kecil mengingat ukuran sabuk Kuiper. Diperkirakan, ada ratusan ribu objek di setiap area 100 kilometer.

Menurut model Nice, dulu ada lebih banyak objek di sabuk Kuiper. Pergeseran orbit empat planet raksasa (Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus) membuat banyak material hilang. Jumlah material ini kira-kira 7 sampai 10 kali massa Bumi.

5. Diamati dengan cermat pada tahun 1983

5 Fakta Sabuk Kuiper di luar Neptunus Ilustrasi pesawat ruang angkasa Pioneer 10 (NASA doc)

Pesawat ruang angkasa pertama yang mencapai wilayah sabuk Kuiper adalah Pioneer 10 NASA. Namun, pesawat ruang angkasa ini tidak mengunjungi salah satu benda es yang ada di sana.

Sedangkan wahana antariksa yang benar-benar mengunjungi objek di sabuk Kuiper adalah New Horizons. Pesawat NASA ini terbang mengelilingi Pluto dan satelitnya sekitar Juli 2015.

Berikut penjelasan mengenai Sabuk Kuiper yang sangat luas. Masih banyak yang harus dipelajari tentang sabuk Kuiper. Tertarik untuk mengetahui informasi seputar sabuk Kuiper?

Berikan tanggapanmu di kolom komentar, ya!

Baca juga: 5 Fakta Asteroid Bennu, Asteroid yang Paling Mungkin Menabrak Bumi

READ  Rekor, Helikopter Kecerdikan NASA Selesaikan Penerbangan ke-10 di Mars

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ilmu

Asteroid Raksasa Digunakan Untuk Menghantam Bumi

Published

on

Jakarta

Menabrak asteroid tetap menjadi salah satu bencana alam paling berbahaya yang mungkin terjadi. Namun, hanya beberapa bencana akibat tabrakan asteroid yang diingat.

Bumi sangat sering ditabrak oleh asteroid purba. Pada tahun-tahun awal pembentukan Bumi, planet kita, yang saat itu masih sangat muda, dibombardir dengan dahsyat oleh asteroid purba yang masif, 10 kali lebih sering daripada yang diyakini sebelumnya. Akibat seringnya sambaran, kemungkinan menunda munculnya kehidupan di Planet Bumi.

Dampak yang dicatat dalam penelitian ini terjadi selama Archean Eon, periode antara 2,5 miliar dan 4 miliar tahun yang lalu. Selama waktu ini, lingkungan planet sangat jauh berbeda. Tak ayal, seperti dikutip dari Jerusalem Post, Selasa (26/10/2021) pengeboman asteroid mengubah lanskap Bumi lebih jauh.

Untuk menganalisis sisa-sisa asteroid, para ilmuwan menciptakan model efek tabrakan ini. Menurut temuan mereka yang diterbitkan dalam jurnal akademik Nature Geoscience, dampak asteroid besar terjadi sekitar sekali setiap 15 juta tahun. Hasil analisis ini 10 kali lebih sering dari prediksi pemodelan sebelumnya.

Itu bahkan bukan asteroid kecil. Beberapa di antaranya berukuran raksasa, atau panjangnya sekitar 10 kilometer. Sebagai perbandingan, NASA memberi label asteroid 140 meter atau lebih yang mendekati planet ini sebagai Asteroid Berpotensi Berbahaya (PHA) atau asteroid berpotensi berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan besar pada Bumi.

Ketika asteroid besar ini menabrak Bumi, maka akan membentuk bola tumbukan, kemudian asteroid tersebut mencair dan menguapkan sebagian kerak planet. Hal ini menyebabkan mereka membentuk gumpalan raksasa di atas permukaan sebelum batuan cair mengembun dan mengeras.

Kemudian, mereka akan jatuh kembali ke planet sebagai partikel seukuran sebutir pasir, mengendap di kerak. Semakin banyak lapisan bola yang muncul, semakin besar dampaknya.

READ  Ada 300 juta planet di Bima Sakti yang bisa dihuni manusia

Efek dari dampak asteroid ini mungkin lebih dari sekadar menyebabkan kerusakan pada lanskap. Bahkan, mereka mungkin telah mengubah sifat kimia atmosfer.

Mengusir asteroid

Sifat destruktif asteroid, bahkan yang kecil, menjadi perhatian para ahli. Badan antariksa di seluruh dunia sedang memantau potensi dampak bencana, serta meneliti cara potensial untuk menghentikannya.

Salah satu metode untuk menghentikan kemungkinan tumbukan asteroid adalah melalui penggunaan defleksi, yaitu meluncurkan sesuatu untuk sedikit membelokkan jalur asteroid.

Salah satunya dengan menggelar misi Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA yang akan diluncurkan pada November tahun ini. Dalam istilah awam, misi ini akan menghantam asteroid dengan roket dengan kecepatan yang cukup untuk mengubah arahnya sepersekian persen sehingga tidak menabrak Bumi.

Metode lain yang diusulkan pada Juli 2021 oleh maskapai Airbus menyarankan alternatif untuk menggunakan kembali satelit TV, membajaknya, dan menggunakannya untuk membelokkan asteroid.

Masih ada pencarian lain, yaitu meledakkan asteroid menggunakan tenaga nuklir saat jaraknya masih cukup jauh agar tidak menabrak Bumi. Metode lain yang diusulkan adalah dengan menggunakan penetrator kinetik untuk meledakkan nukleus asteroid, dan metode ini dapat dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Tonton video”Penjelasan NASA tentang kemungkinan asteroid menabrak bumi di masa depan
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

Continue Reading

Ilmu

Buat supernova kecil di Bumi untuk melihat bagaimana item baru muncul

Published

on

Para ilmuwan mampu melihat secara detail bagaimana bintang membentuk elemen terberat di alam semesta. Mereka melakukan ini dengan mensimulasikan kondisi supernova dalam akselerator partikel. tenang! Tidak ada ledakan bintang yang nyata, melainkan proses pada skala kuantum. Dengan ini, mereka mengkonfirmasi salah satu model yang paling masuk akal tentang bagaimana unsur-unsur tertentu terbentuk dalam supernova sejati.

  • Para astronom tidak menemukan tanda-tanda bintang masif berubah menjadi supernova
  • Gambar Hubble ini menunjukkan momen pertama ledakan supernova
  • Supernova kuno dan langka ditemukan pada jarak 68.000 tahun cahaya

Para astronom tahu bahwa sebuah bintang, selama masa hidupnya, dapat menggabungkan inti atom hidrogen dan helium. Unsur-unsur besar juga dapat menggabungkan karbon dan unsur-unsur lain dari tabel periodik, tetapi ada batasnya: besi. Dari sana, mereka tidak bisa lagi melakukan fusi nuklir, dan yah, mereka meledak. Dalam ledakan ini, para ilmuwan mengatakan bahwa unsur-unsur yang lebih berat dari besi ditempa.

Tetapi ada juga batasan untuk supernova. Isotop dikenal sebagai p-nuklir, di mana “p” berarti kaya proton, dan membentuk sekitar 1% dari unsur-unsur berat yang diamati di tata surya kita, dan pembentukannya adalah sebuah misteri. Isotop adalah variasi dari unsur yang sama dengan massa atom yang berbeda, biasanya karena jumlah neutron yang bervariasi dalam inti, sedangkan jumlah proton tetap sama. Inti P adalah isotop yang tidak memiliki neutron tetapi kaya akan proton.

Ingin mengikuti berita teknologi terbaik hari ini? Pergi dan berlangganan saluran youtube baru kami, Canaltech News.

Setiap hari ringkasan berita paling penting di dunia teknologi untuk Anda!

Tabel periodik ini menunjukkan unsur-unsur yang dibentuk oleh ledakan bintang, tumbukan antara bintang neutron, dan proses kosmik lainnya (Gambar: Reproduction/Jennifer Johnson/ESA/NASA/AASNOVA)

Model yang diterima saat ini untuk menjelaskan pembentukan inti p adalah proses gamma, yang terdiri dari peristiwa kosmik energik di mana sebuah atom menangkap proton lepas. Untuk membuktikan hipotesis ini, para ilmuwan menggunakan pemisah isotop dan akselerator II di Laboratorium Nasional Triumf di Kanada untuk menghasilkan seberkas atom rubidium-68 dari bahan radioaktif bermuatan.

Menurut penelitian, hasilnya menunjukkan produksi inti-p yang disebut strontium-84, yang konsisten dengan proposal proses gamma. Laju reaksi termonuklir lebih rendah dari yang diperkirakan oleh model teoretis, menghasilkan produksi strontium-83 yang lebih tinggi, dalam jumlah yang konsisten dengan keberadaan isotop ini dalam meteorit. Artikel yang menjelaskan temuan itu diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters.

READ  Ada 300 juta planet di Bima Sakti yang bisa dihuni manusia
Continue Reading

Ilmu

Ilmuwan Menemukan Fosil Kepiting Tertua Terjebak di Amber

Published

on

INDOZONE.ID – Para ilmuwan baru-baru ini menemukan kepiting tertua yang terperangkap dalam damar selama 100 juta tahun. Amber, juga dikenal sebagai amber, adalah resin pohon yang mengeras menjadi fosil dan sering diklasifikasikan sebagai batu permata.

Penemuan ini berasal dari zaman dinosaurus dan merupakan mata rantai yang hilang dalam evolusi. Mengutip Independent, kepiting kecil ini dipercaya sebagai nenek moyang kepiting merah modern yang bermigrasi ke lautan untuk berkembang biak. Melihat hal tersebut, Dr. Javier Luque dari Harvard University memberikan komentarnya.

“Spesimennya spektakuler, ini satu-satunya. Benar-benar lengkap dan tidak kehilangan sehelai rambut pun dari tubuhnya, luar biasa,” katanya kepada Independent.

“Dalam catatan fosil, kepiting non-laut berevolusi 50 juta tahun yang lalu, tetapi hewan ini telah dua kali lipat usianya,” lanjutnya.

Dalam catatan fosil, diketahui bahwa ini adalah fosil kepiting yang paling utuh. Javier mengatakan semakin kita mempelajarinya, semakin kita menyadari bahwa hewan-hewan ini sangat istimewa dalam banyak hal. Insang yang berkembang dengan baik menunjukkan gaya hidup akuatik atau semi-akuatik.

Menurut CNN, penemuan kepiting dalam damar memiliki panjang hingga 5 milimeter dan kemungkinan besar adalah bayi kepiting. Peneliti sendiri mengatakan bahwa Cretapsara membuktikan kepiting membuat lompatan dari laut ke darat dan air tawar selama zaman dinosaurus.

Apalagi Creptasara athanata adalah spesies amfibi. Diduga masuk ke dalam hewan semi terestrial yang bermigrasi dari darat ke air. Fenomena ini juga disamakan dengan kepiting merah modern, di mana ibu-ibu melepaskan bayinya ke laut.

“Kepiting Miosen ini benar-benar kepiting yang tampak modern seperti kerabat mereka yang masih ada. Mereka hidup di pepohonan, di genangan air kecil,” kata Dr Javier Luque.

Fosil kepiting dalam damar sendiri ada di Museum Amber Longyin, China. Mengutip SciTechDaily, Dr. Javie Luque pertama kali mengetahui penemuan ini pada tahun 2018 dan bertekad untuk menelitinya.

READ  Bulu burung merak jantan dan betina berbeda, inilah alasannya: Okezone Trend

Artikel Menarik Lainnya:

Continue Reading

Trending